Sejarah Desa

ASAL USUL DESA SROBYONG

Desa Srobyong secara geografis sebagai Ibu Kota Kecamatan Mlonggo Kabupaten Jepara, karena terletak di tengah-tengah kota Kecamatan Mlonggo. Batas sebelah utara Desa Karanggondang, sebelah barat Dukuh Kiyongsari Desa Sekuro dan Desa Jambu, sebelah selatan Desa Jambu dan Desa Sekuro, sebelah timur Desa Sekuro.
Konon ceritanya asal usul Desa Srobyong. Ada 2 orang tokoh Mbah Jibeng dan Mbah Angga. Mbah Jibeng dari Mataram Ngayogyakarta Hadiningrat dan Mbah Angga dari Pulau Bangka. Mbah Jibeng dan Mbah Angga mengembara dengan teman-temanya mencari tempat untuk berdakwah menyebarkan agama Islam. Mereka berjalan ke utara menyeberangi berbagai sungai. Setelah menyeberangi Sungai Mlonggo terus menuju ke utara kurang lebih 2 kilo meter, mereka dan kawan-kawannya berhenti. Disinilah mereka bersama pengikutnya mendirikan barak
( rumah untuk istirahat sementara ). Karena dianggap cocok, barak tersebut dibuat rumah permanen. Tiangnya dari bambu, dindingnya terbuat dari bambu dinamakan gedheg, dan dari daun kelapa dinamakan kajang, atapnya dari daun kelapabernama welit dan widhig, krepusnya dari daun kelapa diwiru ditata seperti ekor binatang bajing dinamakan bajingan. Itulah model rumah jaman dahulu banyakbanyak orang mengatakan Rumah Jawa. Mereka hidup dirumah tersebut dan ditiru sama-sama pengikutnya sehingga berdirilah banyak rumah yang mirip hampir sama. Tetapi daerah ,yang ditempati belum memiliki nama. Mbah Jibeng melihat ke utara tampak seromboyong pohon besar yang bersinar seperti gambar wayang punakawan tertua yaitu Ki Ageng Badranaya atau Ki Semar. Teman-teman lainnya diajak melihat pohon besar dan Mbah Jibeng mengatakan seromboyong pohon besar itu kita buat patokan ( tetengger ) nama Desa “Seromboyong Sinar Kayu Wayang”.
Mbah Angga berpendapat kata-kata itu terlalu panjang. Jika membuat nama yang singkat saja, “ Seromboyong ” begitu saja. Yah semua setuju bahwa nama Desa bernama Seromboyong, akhirnya banyak ucapan Seromboyong menjadi Srobyong.
Kebetulan waktu itu Daerah Kadipaten Ujungpara ( jepara ) terjadi kekosongan kepemimpinan tidak Adipatinya. Kemudian datang 2 orang Priyayi Agung dari Keraton Ngayogyakarta yaitu Raden Citrasoma dan Raden Sutajiwa. Beliau berdua sangat cerdik dan memounyai keahlian berbeda, Raden Citrasoma memiliki keahlian kenegaraan ( politik ) dan Raden Sutajiwa punya keahlian paranormal kelas berat ( ketirakatan yang tinggi ). Keduanya kakak beradik Raden Sutajiwa yang tua dan Raden Citrasoma adiknya. Raden Citrasoma punya keinginan menjadi Adipati Ujungpara ( Jepara ), mengatakan sama kakaknya “ Mas saya ingin menjadi Adipati disini yaitu Adipati Ujungpara ( Jepara ). Kakaknya mengangguk dan mengatakan “ ya, dik. Saya setuju tetapi saya mohon wangsit sama Sang Wenang dulu “.

Raden Sutajiwa bertapa di Lojigunung tujuh hari tujuh malam, akhirnya berhasil mendapat wangsit dari Sang Maha Besar. Agra Raden Citrasoma menulis di gapura dengan kalimat “ Citrasoma Adipati Jepara Sabda Pandita Ratu”. Kalimat ini ditulis dengan gula klapa. Beliau berdua setelah menulis kalimat tersebut lalu pergi ke Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat minta restu ( palilah ) dari Sang Raja Ngayogyakarta. Keduanya Seba terhadap Sang Raja ( mengahadap sama Sang Raja ). Beliau matur sama Sang Raja bahwa keinginannya tentang jadi Adipati Jepara disampaikan sama Sang Raja. Tuan Raja bisa menrima yang telah diinginkan Raden Citrasoma dengan syarat harus mau bertempur ( perang ) melawan Adipati Blabak Magelang yang pada waktu itu Mbalela ( tidak taat sama peraturan ) dari Tuan Raja Ngayogyakarta.

Karena mendapatkan dawuh dari Tuan Raja Ngayogyakarta, tentang syarat yang berat, kedua beliau (Raden Citrasoma dan Raden Sutajiwa) kembali ke Ujungpara (jepara). Sampai di jepara mencari teman ( prngikut ) untuk maju ke palagan medan juang (bertempur) melawan Adipati Blabak Magelang. Yang diajak mengikuti ke Palagan Medan Juang : 1. Mbah Jibeng dari Srobyong, 2. Mbah Angga dari Srobong, 3. Mbah Kawak dari Kawak, 4. Mbah Syeh Mualim dari Sekacer, 5. Mbah Bonjot dari Bonjot,
6. Mbah Mantingan dari Mantingan, 7. Mbah Syeh Jundnag dari Jundang, dan ditambah 2 orang lagi yakni Raden Citrasoma dan Raden Sutajiwa itu sendiri. Jadi jumlah ada 9 orang . Raden Citrasoma dan Raden Sutajiwa beserta 7 orang melaksanakan tugas menuju Kadipaten Blabak Magelang. Terjadilah perang yang hebat antara 9 orang dari Jepara dan Adipati Blabak Magelang. Adipati Blabak Magelang kalah otomatis Prajurit dari Jepang menang. Dengan kemenangan yamg telah diraih oleh Citrasoma dan para pengikutnya, maka akan diadakan syukuran ( bancakan ). Raden Sutajiwa memilih hari Senin Pahing Bulan Sura untuk merayakan winisuda, syukuran, bancakan.

Bertepatan waktu yang terpilih, yaitu hari Senin Pahing bulan Sura diadakan pelaksanaan winisuda, syukuran, bancakan. Beliau mengundang semua yang ikut perang ditambah undangan lainnya. Raden Citrasoma diwinisuda menjadi Adipati Jepara dan Raden Sutajiwa menjadi Inteljen di laut utara di wilayah Bodan Tanpa Ratu ( sekarang Desa Bondo ).

Pada waktu acara syukuran, bancakan dalam acara doa, semua yang hadir diminta siapa yang dapat memimpin doa, satu-satunya yang dapat memimpin doa yaitu Mbah Ngga atas usul Mbah Jibeng. Mendengar usulan Mbah Jibeng, Raden Citrasoma Adipati Jepara mempersilahkan kepada Mbah Angga didampingi Mbah Jibeng untuk memimpin doa. Berdoa dimulai dengan kalimat (“ Dhong pipit awar-awar kawite bocah wetan keladuk payone lontar sega udhuk pari anyar, mban embane jarik cindhe sampirane bale gedhe surak aba surak iye- iye rampe. Mbang kara-mbang kara lembak-lembak ning segara lelarane padha lunga rejekine padha teka surak aba surak iye-iye rampe. Sutajiwa dawa umure menangi Ratu selawe mban-embane jarik cindhe sampirane bale gedhe surak aba iye. Mbang pacar-mbang pacara tak sebar tengahe latar para nyai padha bubar penyakite padah buyar rejekine amapar-ampar surak aba surak iye-iye rampe, kabeh-kabeh dawa umure menangi putu selawe, mban-embane jarik cindhe sampirane bale gedhe surak aba iye” ).
Begitulah kalimat doa yang dibawakan Mbah Angga, pada kata-kata “ surak aba iye ”. semua peserta mengatakan amin. Setelah doa selesai Adipati Raden Citrasoma dan Inteljen Raden Sutajiwa bertepuk tangan diikuti oleh peserta upacara dengan hati yang bangga, senang dan benar-benar bersyukur kehadirat Allah SWT.

Mbah Angga diangkat sebagai Pengulu atau Modin Kadipaten Jepara ( sekarang Kepala Depag ) dan diberi tambahan Nama Sanjungan “ Datuk Angga Singaraja ”. Mbah Jibeng diangkat sebagai Sentono Dalem Kadipaten Jepara ( Pengawal Adipati ) dan diberi tambahan nama Sanjungan “ Jibeng Anggaka Wijaya ”.

Masyarakat Srobyong menyebut Mbah Datuk Anggasingaraja hanya Mbah Datuk. Adapun Mbah Jibeng Angkawijaya Sentana Dalem Adipati hanya Mbah Sentono. Mbah Jibeng Angka wijaya sebetulnya sebetulnya seorang seniman pandai bercerita tentang dunia kewayangan, sehingga Mbah Sentono ada yang mengatakan Trah Dalang.
Mbah Sentana sama Mbah Datuk adalah pejuang Islam, tetapi beliau sangat toleransi inter dan antar Umat beragama yaitu dengan Agam Kristen, Agama Budha, Agama Hindu, dan KongHucu. Untuk menghargai Agama Hindu pada waktu itu mengadakan bancakan, syukuran, dengan bentuk seremonial jangan sampai memotong sapi. Agar seyogyanya memotong kerbau saja.

Sampai sekarang pada waktu mengadakan Sedekah Bumi atau Sedekah Rukun tidak memotong Sapi namun memotong Kerbau.

Gerak gerik Mbah Sentono dan Mbah Datuk sangat diperhatikan oleh Adipaten Raden Citrasoma. Sampai-sampai nama Desa Srobyong ikut diresmikan pada waktu Winisudan Jumenengan Adipati Jepara dan disaksikan oleh para Punggawa Kadipaten Jepara.

Mbah Sentana wafta pada hari Senin Pahing Bulan Apit dimakamkan di dekat Sungai. Dan sekarang makam Islam dekat Makam Mbah Sentono tersebut dinamakan Makam Sentono, serta Punden atau Pepundi ini dinamakn Punden Sentono. Oleh masyarakat Srobyong diabadikan tiap Hari Senin Pahing Bulan Apit diadakan Manganan ( Khoul Mbah Sentono ).

Setahun kemudian Mbah Datuk juga Wafat pada hari Senin Wage bulan Apit, dimakamkan di Lor kali juga sama-sama diabadikan oleh masyarakat sekitar. Makamnya yang berada di Dukuh Gesing Lor Kali. Dinamakan Punden Datuk Gesing. Setiap hari Senin Wage bulan Apit diadakan Manganan (Khoul Mbah Datuk ).

Demikian Cerita Rakyat atau Legenda asal-usul Desa Srobyong saya tulis dan saya susun secara sederhana, apabila pembaca ada sumber lain yang kaitannya dengan cerita ini dapat mengubah atau menambah. Semoga bermanfaat. Amiin.

Narasumber / Pustakawan :
1. Buku Legenda Mbah Sutajiwa Bondo
2. Mbah Bureng tukang Masjid Srobyong
3. Mbah Atmo Pait
4. Mbah Sari Kerta Bangkak
5. Mbah Kromo Raji
6. Mbah Rasmi Juru Kunci Mbah Sentono
7. Mbah Regu Juru Kunci Punden Mbah Suto
8. Mbah Tanu Mashadi
9. Mbah K. Muhyin
10. Mbah K.H. Muhammad Cholil
11. Mbah K. Muchlisin
12. Mbah Tambah

Facebook Comments